At 5 AM after the dawn call to
prayer, the ship finally arrived at the Lembar Port in Lombok. As promised, I was picked
up by Mr. Gunawan to his house to rest for a while before continuing the
journey to Mataram. At 7 AM I left for the Panca Karsa Office to meet with
Mrs. Lina, a friend of my aunt. Mrs. Lina was very friendly and immediately
told me a story related to the NGO where she works.
| Mrs. Endang is opening a Village Level Regulation Training event, 2019 |
| Problems reviewed by residents of Teniga Village, 2019 |
We can see the problems related to BMI according to the residents of Teniga Village were in their background as migrant workers, problems before departure, and problems when they have arrived in the destination country. The main reason for being a migrant worker is because the agricultural sector is increasingly marginalized. Other than that, there are problems like women who try to survive after their husbands die or divorce. They try to support themselves and the children they leave behind in Indonesia. BMI candidates often find their way overseas through illegal recruitment agencies. With an unclear contract and without sufficient training, many BMI end up with inappropriate treatment.
The treatment consists of physical
violence, sexual harassment, working hours that are not in accordance with the
contract, and inadequate salary. When they returned, they found that their
husbands had remarried and the money they had gotten when becoming a BMI was
not well managed. So that becoming a BMI is not beneficial, but detrimental,
especially for women. Panca Karsa provides solutions through legal basis and
assistance in administration through legal channels so that citizens who want
to become migrant workers can be treated humanely.
Warga Desa
Teniga sedang berdiskusi terkait permasalahan BMI, 2019
|
Besides Panca Karsa, I also met with
Mrs. Marnim, founder of Kopwan Meleko Bangkit. Meleko Bangkit was first
established as an effort to deal with the post-disaster situation. This group
consists of 20 wives who are members of the Forest Farmers Group (KTH) with the
main savings in the form of dried coffee beans. Mrs. Marnim once received benefits from the
Building Resilience Program. Now, Meleko Bangkit develops business units with
other activities such as savings and loans, coffee processing, bamboo weaving
processing, and the use of porang in
the forest area. They also encourage how to use the home-yard as a family food
savings.
| Kopwan Meleko Bangkit history banner, 2019 |
Indonesian translation:
Pukul 05.00 setelah adzan subuh
berkumandang, akhirnya kapal bersandar di Pelabuhan Lembar. Sesuai janji, saya dijemput
oleh Pak Gunawan menuju rumahnya untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan
perjalanan ke Mataram. Pukul 07.00 saya berangkat ke Kantor Panca Karsa untuk
bertemu dengan Bu Lina. Ketika pertama kali bertemu, Bu Lina langsung bercerita
terkait dengan LSM tempatnya bekerja.
Kelompok Panca Karsa berdiri pada
tahun 1988. Digagas oleh Ibu Endang yang juga menjadi direktur utamanya selama
11 tahun. Dengan latar belakang advokasi, para anggota yang rata-rata mantan
mahasiswa hukum tersebut bertujuan untuk membantu PMI (Pekerja Migran
Indonesia) atau BMI (Buruh Migran Indonesia) agar lepas dari berbagai
permasalahan. Sasaran dari bantuan mereka terdapat di lima desa di Kabupaten
Lombok Utara (KLU), di antaranya yang saya tau adalah Desa Rempek dan Desa Teniga.
Hari itu Panca Karsa memberikan pelatihan pada 20 warga desa terpilih.
Pelatihan yang diberikan berlangsung dua arah. Warga diajak berdiskusi dah
menjabarkan berbagai permasalahan yang ada di desanya masing-masing.
Dapat kita lihat masalah-masalah
terkait BMI menurut warga Desa Teniga ada pada latar belakang mereka menjadi
TKI, masalah sebelum keberangkatan, dan masalah ketika sudah tiba di negara
tujuan. Selain alasan pekerjaan sektor pertanian yang semakin terhimpit,
adapula masalah seperti perempuan yang berusaha bertahan hidup setelah
ditinggal mati oleh suaminya atau bercerai. Mereka berusaha menghidupi dirinya
dan anak-anak yang mereka tinggalkan di Indonesia. Seringkali calon BMI mencari
jalan ke luar negeri melalui PJTKI yang illegal. Dengan kontrak yang tidak
jelas serta tanpa bekal pelatihan yang cukup, akhirnya banyak dari BMI yang
mengalami perlakuan tidak pantas.
Perlakuan tersebut berupa kekerasan fisik, pelecehan
seksual, jam kerja yang tidak sesuai kontrak, dan gaji yang tidak mencukupi.
Ketika pulang, mereka malah mendapati suami mereka sudah menikah lagi dan uang
yang didapat ketika menjadi BMI tidak dikelola dengan baik
(dihambur-hamburkan). Sehingga menjadi BMI bukannya menguntungkan, malah
merugikan, terutama bagi kaum perempuan. Panca Karsa memberikan solusi lewat
bekal dasar hukum dan bantuan untuk mengurus administrasi lewat jalur legal
agar warga yang ingin menjadi BMI dapat diperlakukan secara manusiawi.
Mensejahterakan warga bukanlah hal yang mudah. Memang benar kata orang, hukum
itu berguna untuk mengatur kehidupan masyarakat, tetapi seringkali kenyataan di
lapangan membuat hukum itu tidak berlaku sepenuhnya.
Selain Panca Karsa, saya juga
bertemu dengan Ibu Marnim, pendiri Kopwan Meleko Bangkit. Mulanya Meleko
Bai sebagai salah satu upaya menghadapi situasi pascabencana.
Kelompok ini terdiri dari 20 orang istri anggota Kelompok Tani Hutan (KTH)
dengan simpanan pokok berupa biji kopi kering. Ibu Marnim pernah menerima
manfaat dari Program Pengurangan Resiko Bencana (Building Resilience). Saat ini
Kopwan Meleko Bangkit mengembangkan unit usaha dengan kegiatan lain seperti simpan-pinjam,
pengolahan kopi, pengolahan anyaman bambu, dan pemanfaatan umbi porang di
kawasan hutan. Selain itu mereka juga mendorong pemanfaatan pekarangan rumah
untuk memenuhi pangan keluarga.
Comments
Post a Comment